Berita Yayasan Literasi Anak Indonesia

Kisah Ibu Kamila: Langkah Sunyi Seorang Guru di Ujung Pengabdian

Di sebuah sekolah dasar kecil di pelosok Sumba Tengah, berdirilah SDI Waicimung, sebuah sekolah sederhana yang menjadi saksi perjalanan panjang seorang guru bernama Ibu Leba Kamila. Tahun 2025, sekolah ini menjadi salah satu sekolah dampingan Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) dalam program peningkatan literasi anak – Program Membaca Berimbang (PMB). Namun jauh sebelum program itu datang, ada seorang guru yang telah lebih dulu menanamkan harapan di sana dengan langkah kaki, kesabaran, dan pengorbanan yang nyaris tak terlihat.

Ibu Kamila telah mengabdikan hampir dua dekade hidupnya di SDI Waicimung. Tepatnya 19 tahun 3 bulan, ia berdiri di depan kelas kecil yang penuh dengan wajah-wajah polos yang menunggu diajari membaca, menulis, dan memahami dunia. Namun perjalanan hidupnya sebagai guru tidak pernah mudah. Ibu Kamila lahir dari keluarga petani sederhana di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah. Masa kecilnya diwarnai oleh kerja keras dan keterbatasan. Setelah menamatkan pendidikan di SDM Waiwakus di Desa Bolubokat, ia memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi guru dengan melanjutkan sekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Anakalang pada tahun 1987.

Bagi seorang anak petani dari desa kecil, keputusan itu bukanlah langkah kecil. Itu adalah mimpi besar yang harus diperjuangkan dengan keberanian. Setelah lulus dari SPG, Ibu Kamila kembali ke sekolah lamanya, SDM Waiwakus, untuk mengajar sebagai guru bantu. Ia datang setiap hari dengan penuh semangat, berdiri di depan kelas dengan harapan dapat mengubah masa depan anak-anak desa seperti dirinya dahulu.

Namun kenyataan hidup berkata lain. Selama empat tahun mengajar, ia tidak menerima gaji sama sekali. Tidak ada honor, tidak ada tunjangan. Ia hanya menerima sedikit uang hasil patungan dari guru PNS yang mengajar di sekolah yang sama. Empat tahun. Empat tahun bekerja tanpa bayaran. Tetapi ia tetap datang mengajar. Pada akhirnya, keadaan memaksanya berhenti pada tahun 1991. Ia pulang membantu orang tua bertani dan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Mimpi menjadi guru seolah perlahan memudar, tertimbun oleh tanggung jawab hidup. Namun ternyata mimpi itu tidak pernah benar-benar mati.

Pada tahun 1996, dengan keberanian yang sama seperti ketika ia pertama kali meninggalkan desa untuk sekolah guru, Ibu Kamila memutuskan kembali mengajar. Ia mencoba peruntungannya mengikuti seleksi CPNS. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali. Lima kali ia mencoba, lima kali pula ia pulang dengan hati yang berat karena tidak terpilih. Sementara itu, ia telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Hidup tidak semakin mudah. Tetapi ia tidak menyerah. Ia terus mengajar sebagai guru honorer, tetap berdiri di depan kelas dengan harapan suatu hari pengabdiannya diakui

Akhirnya, pada tahun 2004, setelah penantian panjang dan perjuangan bertahun-tahun, Ibu Kamila lulus sebagai guru PNS. Sebuah kemenangan yang lahir dari ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Ia sempat mengajar di SDM Arara sebelum akhirnya pada Januari 2006 dipindahkan ke SDI Waicimung sebagai guru kelas awal. Di sekolah kecil inilah sebagian besar masa pengabdiannya dihabiskan.

Setiap hari, selama hampir dua puluh tahun, Ibu Kamila berjalan kaki menuju sekolah. Jarak rumahnya ke SDI Waicimung sekitar 4 kilometer. Artinya setiap hari ia berjalan 8 kilometer pulang-pergi. Di musim kemarau, jalanan berdebu menempel di wajah dan pakaiannya. Di musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur yang licin. Namun langkahnya tidak pernah berhenti. Dengan payung sederhana atau mantel hujan tipis, ia tetap berjalan menyusuri jalan desa, sering kali ditemani oleh anak-anak yang juga berjalan menuju sekolah. Baginya, perjalanan itu bukan beban. Ia menikmati setiap langkahnya. Karena di ujung jalan itu, ada anak-anak yang menunggunya. Di kelas kecil itu, ada masa depan yang harus ia bantu tumbuhkan.

Tahun 2025 menjadi bab baru dalam perjalanan pengabdiannya ketika SDI Waicimung terpilih sebagai sekolah dampingan Program Membaca Berimbang dari YLAI. Ibu Kamila bersama dua guru kelas awal lainnya dan kepala sekolah mengikuti pelatihan pendekatan membaca berimbang yang mencakup pembelajaran fonik, membaca interaktif, dan membaca terbimbing. 

Ibu Kamila tidak sekadar berbicara, ia mengenang, sambil mengaitkan masa lalu dengan kenyataan yang dihadapinya di ruang kelas hari ini. Dengan suara yang tenang namun sarat makna, ia mengakui bahwa pendekatan BRP, khususnya pembelajaran fonik, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru bagi dirinya. “Ini seperti kembali ke masa saya di bangku SPG,” ungkapannya. Dulu, sebagai calon guru, ia telah diperkenalkan pada dasar-dasar penting tentang bagaimana anak belajar membaca mengenal huruf, memahami bunyinya, dan menghubungkannya menjadi kata. 

Kini, bertahun-tahun setelah ia mengabdi, prinsip yang sama kembali hadir bukan sebagai teori semata, tetapi sebagai kebutuhan nyata di kelas awal. Ia menegaskan bahwa pengetahuan huruf bukanlah hal sederhana. Bagi anak-anak, ini adalah fondasi utama kemampuan untuk mengenali nama huruf, bentuknya, dan bunyinya. Tanpa fondasi ini, anak akan kesulitan melangkah lebih jauh. Karena itu, pembelajaran fonik tetap relevan bahkan mendesak untuk memastikan setiap anak memiliki pijakan yang kuat dalam membaca. 

Namun, Ibu Kamila juga menyadari bahwa membaca bukan hanya soal huruf dan bunyi. Di dalam kelasnya, ia melihat bagaimana membaca interaktif membuka dunia baru bagi anak-anak. Ketika guru membacakan cerita dengan ekspresi, intonasi, dan interaksi, anak-anak yang bahkan belum bisa membaca sekalipun dapat memahami isi cerita. Mereka tertawa, terdiam, bahkan larut dalam alur cerita seolah-olah mereka ikut hidup di dalamnya.

“Anak-anak itu bisa merasakan dan memahami cerita, meskipun mereka belum bisa membaca,” jelasnya. Membaca interaktif bukan hanya membantu pemahaman, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada membaca sejak dini. Anak tidak lagi melihat buku sebagai sesuatu yang sulit, melainkan sebagai jendela yang menghidupkan imajinasi mereka. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membaca terbimbing. Dalam praktiknya, pendekatan ini memungkinkan guru mendampingi anak-anak secara lebih terarah, terutama dalam kelompok kecil. Di sinilah guru dapat mengamati secara langsung kemampuan setiap anak siapa yang sudah memahami tanda baca, siapa yang masih kesulitan merangkai kata, dan siapa yang membutuhkan dukungan lebih intensif.

Melalui membaca terbimbing, guru tidak lagi mengajar dengan satu cara untuk semua. Mereka memetakan kemampuan siswa, lalu menyesuaikan pendampingan secara proporsional. Pendekatan ini membuka jalan bagi pembelajaran yang berdiferensiasi, pembelajaran yang sadar akan kebutuhan setiap anak, bermakna bagi perkembangan mereka, dan tetap menghadirkan kegembiraan dalam proses belajar. Bagi Ibu Kamila, semua ini bukan sekadar metode. Ini adalah panggilan untuk kembali pada esensi menjadi guru dalam memahami anak, menemani mereka berproses, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan belajar membaca.

Bagi sebagian orang, mempelajari pendekatan baru di usia yang tidak lagi muda mungkin terasa berat. Namun tidak bagi Ibu Kamila. Ia justru menjadi salah satu guru yang paling bersemangat belajar. Dengan penuh kerendahan hati, ia bertanya, berdiskusi, dan berkonsultasi dengan fasilitator daerah dan staff program tentang bagaimana menerapkan metode tersebut dengan baik di kelasnya. Sebagai guru kelas 2, ia berusaha menyesuaikan diri dengan pendekatan baru itu. Baginya, perubahan bukanlah ancaman. “Perubahan adalah pengetahuan,” katanya. Dan pengetahuan harus diterima demi masa depan anak-anak.

Kepala Sekolah SDI Waicimung bercerita tentang semangatnya “Setiap pagi, Ibu Kamila selalu datang lebih awal, meskipun harus berjalan kaki jauh dari rumah. Tidak pernah mengeluh”.

Sementara itu, Pak Umbu Manung, fasilitator daerah dari YLAI sekaligus rekan guru di sekolah yang sama, mengingat bagaimana Ibu Kamila sering meminta dirinya mengamati pembelajarannya di kelas. Ia ingin diberi masukan. Ia ingin belajar lagi bahkan ketika usianya tidak lagi muda. Bahkan ketika masa pensiun sudah semakin dekat. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, batas usia pensiun guru adalah 60 tahun. Dan kini, waktu itu hampir tiba. Pada 25 Maret 2026, Ibu Kamila resmi memasuki masa purna tugas. Namun bagi Ibu Kamila, menjadi guru tidak pernah sekadar pekerjaan. Itu adalah panggilan hidup. Ia berencana menjadikan rumahnya sebagai tempat anak-anak di lingkungannya belajar membaca dan belajar pelajaran sekolah. Tanpa bayaran dan tanpa tuntutan. Seperti dahulu ketika ia mengajar tanpa gaji.

Karena bagi Ibu Kamila, seorang guru mungkin bisa pensiun dari sekolah. Tetapi pengabdian seorang guru tidak pernah benar-benar berakhir. Dan suatu pagi nanti, ketika langkahnya tidak lagi menuju SDI Waicimung, mungkin jalan desa itu akan terasa lebih sunyi. Namun di dalam rumah kecilnya, masih akan terdengar suara anak-anak mengeja huruf. Dan di sana, seorang guru tua akan tetap duduk dengan sabar, membantu mereka membaca dunia satu kata demi satu kata. (Rafael Gomes)

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Berita Lain