Literasi merupakan salah satu jembatan bagi siswa dalam dunia pendidikan, yang akan menjadi bekal bagi siswa untuk memahami dan menghadapi perkembangan di sekitar mereka. Namun, akses terhadap literasi di Sumba khususnya masih sulit. Kurang tersedianya bahan bacaan yang berkualitas, kegiatan literasi yang kurang interaktif dan menarik, juga metode pengajaran literasi membaca yang kurang kreatif, merupakan faktor-faktor yang memengaruhi akses literasi. Berangkat dari hal tersebut, YLAI berkerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur melalui Program Membaca Berimbang.
Program membaca berimbang telah berjalan lebih dari 7 bulan. Ada 17 Sekolah Dasar Negeri yang menjadi sekolah sasaran program pada tahun 2025 di Sumba Tengah dan Sumba Timur. Selama program dilaksanakan bersama Dinas Pendidikan, YLAI memilih 9 fasilitator daerah yang dilatih secara khusus untuk mendampingi pengembangan program di masing-masing sekolah. Sekolah-sekolah dampingan juga telah mendapatkan pelatihan. Setiap bulan, fasiliator daerah melakukan monitoring program sekaligus mendampingi para guru meningkatkan kompetensi mereka.
Bapak Sandri adalah salah satu fasilitator daerah untuk Kabupaten Sumba Timur. Guru yang selalu bersemangat itu merupakan salah satu guru di Sekolah Dasar Negeri di Sumba Timur. Namun, sekolahnya bukan termasuk sekolah sasaran program. Dari pengalaman selama pendampingan program, Pak Sandri melihat dan merasakan sendiri perubahan yang terjadi pada siswa-siswa dan guru-guru yang melaksanakan program membaca berimbang.
Lebih-lebih lagi, Pak Sandri memfasilitasi pertemuan yang diminta guru-guru di luar jam mengajar. Pertemuan dimaksudkan untuk berbagi praktik baik dan berlatih lagi dalam melaksanakan kegiatan membaca di kelas, selain menjadi ruang diskusi dan berbagai kendala yang dihadapi dan mencari solusi apa yang bisa dilakukan.
Lokasi yang jauh, kemampuan pengajar yang berbeda-beda, dukungan dari pemimpin sekolah, merupakan tantangan-tantangan di lapangan yang dihadapi para fasilitator daerah. Meskipun demikian, Pak Sandri dan teman-teman fasilitator daerah lainnya, tidak menyerah untuk menebarkan virus literasi. Para fasilitator daerah selalu berupaya untuk mencari solusi dan mengatasi tantangan yang dihadapi di lapangan.
Semangat Pak Sandri menebar virus literasi patut mendapatkan apresiasi. Melatih para guru di sekolah yang ia pimpin merupakan inisiatifnya sendiri, walaupun sekolahnya bukan sekolah sasaran penerima program. Manfaat dari pelatihan program yang diberikan juga dirasakan secara personal. Ada pengetahuan yang baik yang bisa diaplikasikan dalam pengajaran di kelas. Pak Sandri mengikuti Lomba Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan tingkat provinsi tahun 2025, untuk kategori guru transformatif. Dalam lomba tersebut, Pak Sandri membagikan praktik baik kegiatan assessment diagnostik kemampuan membaca dengan format yang didapatkan saat pelatihan fasilitator daerah. Hasilnya tidak terduga. Ia menjadi peserta terbaik ke-2 dalam Kategori GTK Transformatif tingkat SD se-Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Kami berharap, lebih banyak lagi Sekolah Dasar Negeri dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Sumba yang mendapatkan pelatihan program membaca berimbang dan menerapkan hasilnya di ruang kelas,” kata fasilitator daerah sumba timur tersebut.
Di Tanah Marapu, virus literasi telah menyebar dari Barat ke Timur, dari tenaga pendidik sampai ke anak didik usia dini.
(Petricia Andini Hutasoit)