Berita Yayasan Literasi Anak Indonesia

Rak Buku yang Membangun Mimpi: Kisah dari Pesisir Papua 

Akses yang jauh dari utara hingga selatan di Tanah Papua, berdiri sebuah bangunan sekolah sederhana SD YPK Syalom Aduwey. Atapnya seng, lantainya semen kasar, dan jendela tanpa kaca agar angin bisa masuk membawa aroma tanah basah di kampung itu. Sinyal internet datang dan pergi sesuka hati, termasuk listrik yang selalu butuh genset. Di ruang perpustakaan yang sederhana itu, kegiatan membaca dimulai dari hal yang sangat dasar. Praktik kecil yang konsisten, seperti membaca bersama dan mendiskusikan cerita adalah bagian keseharian mereka. Buku-buku yang ada dibaca berulang dan bergantian agar semua anak mendapat kesempatan untuk mengikuti dan memahami cerita. 

Namun pagi itu berbeda.Anak-anak datang dengan seragam sekolah dan sepatunya. Mata mereka berbinar, karena kabar yang telah mereka tunggu dengan usaha yang telah dilakukan selama dua tahun ini: perpustakaan akhirnya dibuka. Di rak kayu berwarna-warni, buku yang berwarna cerah berjenjang kumbang hingga gajah memenuhinya. Buku-buku tersebut merupakan kiriman dari Seatrek yang dibawa dari Bali melalui Yayasan Literasi Anak Indonesia.

Langkah kecil mereka memasuki ruangan itu, tengok kanan dan kiri. Tangannya ragu menyentuh sampul buku bergambar. Selama ini, mereka hanya melihat gambar di buku pelajaran yang berdebu di perpustakaan lama. Kini, warna-warni terlihat jelas di seluruh halaman buku cerita anak yang baru, lantai beralaskan karpet, bantal-bantal empuk tersusun di sudut ruangan. “Banyak buku yang menarik, dan saya suka itu”, ucap mereka hampir bersamaan.

Sejak hari itu, perpustakaan menjadi tempat paling ramai di sekolah. Datang, istirahat dan pulang sekolah, anak-anak tidak lagi langsung bermain. Mereka duduk melingkar bersandar hingga tiduran, membaca keras-keras, saling bertukar buku, atau menggambar dari yang mereka temukan di buku.

Perpustakaan Ramah Anak di papua

Di tengah perubahan kecil namun berarti itu, Ibu Olivianti Kasing tampil sebagai sosok guru yang terus bertumbuh beliau telah mengajar di sekolah itu sejak 2019. Empat tahun pertama mengajar kelas rangkap yaitu kelas satu dan dua. Tahun kelima, ia dipercaya mengajar kelas empat, dan kini memegang kelas enam sembari mempersiapkan wisuda sarjana strata-1-nya. “Ini semua untuk kalian, karena kalian suka membaca supaya mimpi kalian tidak berhenti di sini,” katanya pagi itu kepada murid-muridnya.

Di sudut ruangan, Maria Rosary Lan membaca buku tentang Putri Empat Musim dan Tukang Sepatu. Ia kemudian menceritakan kembali kisah seorang anak miskin yang bercita-cita menjadi tukang sepatu karena saat kecil ia sendiri tak memiliki sepatu. Dalam perjalanannya melewati empat musim dan bertemu para putri, ia akhirnya mampu membuat sepatu untuk dirinya dan orang lain. Sebuah cerita sederhana tentang harapan dan ketekunan.

Di sisi lain, Theo Yan Wiliams Fatot membaca buku tentang Wayan dan Raja Penyu. Wayan adalah anak desa yang menyaksikan laut tempatnya bermain perlahan tercemar. Ia menolong seekor penyu yang sakit karena menelan plastik, lalu mengajak warga desa berhenti membuang sampah sembarangan dan membersihkan pantai bersama. Dari cerita itu, diskusi kecil tentang menjaga lingkungan pun tumbuh di antara mereka.

Melalui kegiatan membaca dan menceritakan kembali seperti ini, guru tidak hanya menumbuhkan kegemaran membaca, tetapi juga menguatkan pemahaman bacaan dan pintu masuk pada literasi kritis, saat siswa mulai mengaitkan teks dengan persoalan nyata di sekitarnya.

Perpustakaan itu mungkin kecil. Cat dindingnya belum sempurna, koleksi bukunya belum banyak. Perubahan itu nyata. Perlahan tapi pasti, orang tua dan masyarakat yang semula ragu mulai melihat dampaknya melalui perpustakaan ramah anak. Anak-anak mereka berbicara tentang dunia yang lebih luas dari kampung yang selama ini mereka kenal. Mereka mulai berani bermimpi lebih tinggi. “Kami sangat merasakan usaha kami yang dihargai, karena Seatrek dan Yayasan Literasi Anak Indonesia bisa menopang dan memotivasi kami dari belakang untuk tumbuh,” ucap Ibu Oliv. 

“Apakah kalian mau tetap ke perpustakaan?” tanya Ibu Oliv menutup kegiatan di perpustakaan. 

 “Aku akan terus ke perpustakaan Bu, karena perpustakaan buat aku ceria selalu,” jawab Laora Patresia Kacili. 

“Aku mau terus ke perpustakaan untuk membaca semua buku itu, karena perpustakaan Indah dan bersih. Aku sangat senang dan nyaman di sana,” jawab Theo Yan Wiliams Fatot.

Mimpi-mimpi besar itu lahir dari lembar-lembar buku yang dibaca dengan rasa ingin tahu anak-anak. Mungkin tak semua fasilitas tersedia, dengan akses yang terbatas. Kini ada satu hal yang sedang tumbuh: kebiasaan dan harapan yang tersusun rapi di rak-rak buku. Perpustakaan saat ini adalah kebanggaan kami dari sekolah untuk anak-anak dan orangtua. (Indah Sintya-CFL)

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Berita Lain