Berita Yayasan Literasi Anak Indonesia

Ibu Guru, Bacakan Buku Ini!

Apa yang terjadi setelah perpustakaan sekolah ramah anak hadir di sekolah? Setidaknya, sekolah mempunyai perpustakaan baru. Jika sebelumnya sekolah sudah mempunyai perpustakaan, pengelolaan perpustakaan ramah anak pasti memberi ciri yang berbeda dari pengelolaan sebelumnya. Perpustakaan ramah anak tidak semata-mata membangun perpustakaan dalam pengertian fisik saja: ruang perpustakaan dipermak, buku-buku diperbanyak dan dipajang di rak buku secara menarik, serta dilengkapi dengan karpet agar memberi rasa nyaman anak-anak saat membaca.

Namun, itu belum cukup untuk menjadikan perpustakaan ramah anak. Hal yang paling penting dari perpustakaan anak setelah kebutuhan fisik dipenuhi adalah adanya kegiatan membaca. Buku-buku yang disediakan di perpustakaan harus difungsikan oleh anak-anak untuk mengembangkan kebiasaan mereka.

Salah satu sekolah penerima program di Lombok Timur membagikan kisah dari ruang perpustakaan sekolah ramah anak. Dari ruang yang dulu kurang terkelola itu, suara riuh anak-anak memenuhi ruangan. Mereka yang awalnya ragu-ragu membaca buku karena belum lancar membaca, memberanikan diri memilih buku yang mereka sukai. Tentu saja, mereka melihat dari gambar sampul yang mereka lihat. 

Pustakawan dan guru sumber dari SDN 2 Kalijaga melihat dan merasakan perubahan baik pada anak-anak didik mereka. Awalnya, anak-anak hanya melihat-lihat gambar. Selanjutnya, mereka mulai membaca buku dan mencoba memahami isi ceritanya. Hal yang paling Istimewa adalah, mereka sangat antusias untuk dibacakan buku cerita oleh wali kelas. Pada saat jam istirahat pun, mereka selalu datang membawa buku dan minta dibacakan, “Ibu Guru, bacakan buku ini” sambil menyodorkan buku pilihan mereka.

Selain itu, perubahan dalam sikap dan tanggung jawab siswa juga terlihat. Anak-anak membawa buku dan mengembalikannya lagi ke perpustakaan. Guru dan pustakawan sangat memberi perhatian terhadap rutinitas perpustakaan yang perlu dibiasakan oleh anak-anak.  Setelah adanya perpustakaan sekolah ramah anak, rasa mandiri dan tanggung jawab  anak-anak terhadap buku tumbuh dan dapat dirasakan oleh guru dan pustakawan. 

Perubahan yang paling menonjol adalah anak-anak setiap hari masuk ke dalam perpustakaan. Mereka langsung menuju rak-rak pajangan yang berwarna-warni dengan buku-buku berstiker hewan, yang menunjukkan jenjang buku. Mereka memilih dan membaca buku dengan nyaman di ruangan perpustakaan ramah anak. 

Di perpustakaan, guru wali kelas membacakan cerita untuk siswa, menemani siswa membaca dan membantu siswa menemukan buku sesuai dengan kemampuan membacanya. Anak-anak senang berada di perpustakaan, ditemani oleh guru yang memperhatikan kebutuhan mereka. 

Enam bulan setelah pembukaan, banyak manfaat yang dirasakan oleh sekolah. Tidak hanya bermanfaat bagi siswa, perpustakaan juga berdampak baik bagi guru.  Guru-guru yang awalnya hanya menemani di perpustakaan, kini melakukan kegiatan membaca bersama siswa dengan lebih efektif, tidak hanya membaca tapi juga mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat dan memahami bacaan dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan observasi, koneksi, dan prediksi. 

Dari ruangan yang tidak berfungsi dan kurangnya buku cerita anak, perpustakaan berubah menjadi rungan ramah anak yang berdampak bagi lingkungan sekolah. Kisah ini, hanyalah satu dari ratusan kisah baik lainnya yang sering kali kami temukan saat mengunjungi sekolah-sekolah mitra, dan ini merupakan salah satu  upaya nyata untuk meningkatkan literasi dan membangun kecintaan membaca untuk anak Indonesia. (Petricia Andini)

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Berita Lain