Berita Yayasan Literasi Anak Indonesia

Dari Demitologisasi Menuju Pembelajaran Membaca Bermakna di Kelas Awal

Kehidupan di zaman modern membuat manusia ingin membebaskan diri dari misteri. Sejak abad ke-17, manusia berusaha memahami dunia dengan hukum alam dan logika rasional. Dunia tidak lagi dipahami sebagai ruang penuh simbol dan makna. Proses ini adalah proses demitologisasi. Proses dimana terjadi pemisahan mitos dari kesadaran manusia. Sejak proses demitologisasi, dunia terasa netral dan mekanis. Dunia yang sebelumnya penuh makna, menjadi kaku dan tercerabut dari akarnya. Logika rasional memang membawa kemajuan, namun meninggalkan kehampaan spiritual. 

Manusia di zaman modern masih memerlukan cerita, simbol, dan pengalaman imajinatif. Pengalaman ini adalah jembatan untuk memaknai dan memikirkan kehidupan secara kritis. Mitos merupakan jembatan spiritual antara manusia dan alam semesta. Ini terjadi di berbagai budaya di Indonesia termasuk Bali dan Sumba. Bali kaya akan ritual, seni, dan pertunjukkan. Semua didasari mitologi lokal seperti Ramayana dan kisah para dewa. Tradisi Bali juga kaya upacara adat. Sumba memiliki banyak kesamaan dengan Bali. Di Sumba ada tradisi Marapu yang menekankan penghormatan leluhur. Tradisi ini sudah mengakar. Tradisi ini menempatkan cerita leluhur sebagai bagian integral dalam pendidikan informal anak. Kisah mitos dan legenda diwariskan secara lisan melalui budaya tutur. Budaya tutur tidak sekedar menyampaikan pengetahuan, tapi juga menanamkan nilai, moral dan identitas yang kuat pada generasi muda.

Keragaman tradisi tutur dan sastra lisan merupakan bukti kekayaan budaya. Kekayaan yang muncul lewat drama, tari, cerita rakyat, upacara hingga pertemuan adat ini menjadi inspirasi bagi pendidikan literasi modern. Literasi hendaknya tidak hanya menekankan pada keterampilan teknis, tapi juga memperkuat makna, empati, dan imajinasi. Literasi menjadi sarana penguatan karakter. Carl Jung dan Joseph Campbell memperlihatkan bahwa mitos adalah ‘peta batin’. Seperti halnya kisah lokal Indonesia dalam konteks literasi membaca, mitos menuntun siswa dalam perjalanan jiwa dan pencarian makna.

Di era modern dan digital, sebenarnya mitos tidak benar-benar hilang. Manusia masih butuh cerita untuk memahami dunia yang kompleks. Mitos muncul kembali (re-mitologisasi) dalam bentuk film, media sosial, public figure, dan ekspresi nasionalisme. Narasi-narasi baru hadir, perubahan cepat membuat masa depan tidak menentu, tetapi akar lokal tetap penting sebagai landasan identitas.

Narasi di atas sangat relevan dalam dunia pendidikan, khususnya pada pelaksanaan Program Membaca Berimbang (PMB) untuk kelas awal. PMB adalah program membaca yang menekankan pada makna, bukan membaca lancar statis dan mekanis. Jika pembelajaran membaca hanya berfokus pada aspek teknis seperti huruf, fonik, dan kelancaran, akan ada resiko abai terhadap unsur makna dan imajinasi yang menjadi kekuatan utama budaya tutur Indonesia. Program Membaca Berimbang menekankan pentingnya kombinasi keterampilan dasar membaca serta kemampuan memaknai dan memahami cerita. Anak dilatih menjadi pembaca yang kritis sekaligus penikmat bacaan yang mampu menemukan makna hidup di dalam cerita.

 

Kekayaan budaya tutur masyarakat Indonesia yang menjadi dasar pengembangan Program Membaca Berimbang. Program ini membuat kegiatan menjadi hidup. Muncullah kelas yang kaya tutur di dalam kelas. Melalui kegiatan membaca interaktif, membaca bersama, dan membaca mandiri, anak-anak diperkenalkan pada ragam buku bergambar yang dirancang agar relevan dengan kehidupan lokal mereka sehari-hari. Buku menjadi jendela, pintu geser, dan cermin. Program ini juga memanfaatkan sudut baca di kelas dan buku berjenjang yang mengusung pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang mendalam dan bermakna menumbuhkan daya inkuiri anak. 

Dengan inovasi yang mengandung lokalitas, anak-anak tumbuh menjadi warga global tanpa tercerabut dari akarnya. Kegiatan literasi di YLAI melibatkan materi kontekstual yang mencerminkan kekayaan nilai, adat istiadat, serta cerita-cerita lokal. Anak-anak tidak hanya belajar membaca secara teknis, tapi juga mengalami cerita sebagai ruang menemukan diri, memahami lingkungan, serta memperluas wawasan kultural mereka.

Tinggalkan Balasan

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Berita Lain

Skill Murid Disleksia Penangkal Era AI, Kok Bisa?
Membaca Berimbang, Harapan Baru untuk Tiga Kabupaten di Pulau Sumba
Dari Delapan ke Ratusan di Lombok Timur