Pelatihan literasi di Kabupaten Tabanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip berhasil menginspirasi guru, orang tua, dan pustakawan dalam menumbuhkan kebiasaan membaca nyaring sejak dini. Selama tiga hari, 150 peserta belajar teknik membaca nyaring yang interaktif dan menyenangkan, serta cara menciptakan sudut baca nyaman di perpustakaan sekolah. Program ini menjadi langkah penting dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan di Tabanan dan menginspirasi daerah lain di Indonesia. Dukungan dari guru, orang tua, pustakawan, dan pemerintah daerah sangat krusial untuk menciptakan generasi pembaca cerdas dan kreatif.
Tabanan Membaca: Tiga Hari yang Menginspirasi Guru, Orang Tua, dan Pustakawan
Pada tanggal 14, 15, dan 19 Mei 2025, Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tabanan mengadakan pelatihan literasi yang melibatkan guru, orang tua, dan pustakawan sebagai tokoh penting dalam mendukung tumbuh kembang anak melalui kebiasaan membaca sejak dini.
Selama tiga hari, sebanyak 150 peserta mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang untuk menghidupkan kegiatan membaca di berbagai lingkungan anak. Pada hari pertama, 50 guru sekolah dasar belajar teknik membaca nyaring yang tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mengajak anak-anak berinteraksi, bertanya, dan berimajinasi. Hari kedua, giliran 50 orang tua yang diajak menjadikan waktu membaca bersama anak sebagai momen penuh makna dan keseruan. Pada hari terakhir, 50 pustakawan dan pengelola perpustakaan sekolah mendapatkan pelatihan untuk menciptakan sudut baca yang nyaman dan menarik, agar anak-anak semakin betah berlama-lama di perpustakaan.
Pelatihan ini menekankan bahwa membaca nyaring lebih dari sekadar suara lantang. Dengan mengajak anak bertanya sebelum, selama, dan setelah membaca, kegiatan ini mendorong mereka untuk berpikir kritis, memperkaya kosa kata, dan memahami cerita secara lebih mendalam.
Peserta juga langsung mempraktikkan teknik membaca nyaring dalam suasana yang hangat dan mendukung. Banyak dari mereka merasa lebih percaya diri untuk membawa metode ini ke dalam kelas, rumah, maupun perpustakaan.
“Saya merasa pelatihan ini sangat bermanfaat dan membuat saya lebih semangat membacakan cerita dengan cara yang menarik,” ungkap Ibu Rus, guru SDN 4 Babahan.
“Materi yang disampaikan sangat interaktif dan suasananya menyenangkan. Saya terinspirasi saat pemateri membacakan buku Jana Tak Mau Tidur. Pengalaman membaca nyaring saya jadi jauh lebih menarik dan bermakna,” tambah Ibu Ririn, pustakawan SDN 1 Denbantas.
Kolaborasi antara YLAI, guru, orang tua, pustakawan, dan pemerintah daerah menjadi fondasi yang kuat untuk membangun budaya literasi yang menyenangkan dan berkelanjutan di Tabanan. Semoga inisiatif ini dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk bersama-sama menumbuhkan generasi pembaca yang cerdas dan kreatif.
Yayasan Literasi Anak Indonesia percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh bersama cerita. Mari terus dukung gerakan membaca nyaring, karena perubahan besar selalu dimulai dari satu cerita kecil.
(Emilia Rosita Dewi)