Berita Yayasan Literasi Anak Indonesia

Menumbuhkan Harapan melalui Membaca Berimbang: Kisah Inspiratif dari Sumba Timur

Kunjungan 5–6 Oktober 2026 sebuah perjalanan yang membahagiakan.

Ketika guru memahami kebutuhan anak, perubahan dalam pembelajaran membaca mulai tumbuh dan membuka peluang bagi setiap anak untuk berkembang. Perubahan dalam pendidikan sering kali dimulai dari langkah sederhana: seorang guru yang menemukan cara mengajar yang lebih tepat, sebuah sekolah yang berani mencoba pendekatan baru, atau sekelompok pendidik yang bersedia berbagi pengetahuan dengan rekan sejawat. Hal-hal inilah yang kami temukan selama kunjungan ke tiga sekolah mitra Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) di Sumba Timur pada 5–6 Oktober 2026. Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi kami untuk melihat secara langsung bagaimana program Membaca Berimbang diterapkan, berkembang, dan mulai menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.

Dari Ruang Kelas, Tumbuh Praktik Baik
Pada hari pertama, kami mengunjungi SDM Kambaniru 2 dan disambut dengan hangat oleh Kepala Sekolah, Ibu Martha Ana Wulang, beserta para guru. Di dalam kelas, kami menyaksikan kegiatan fonik dan membaca terbimbing yang telah berjalan dengan baik. Praktik ini menunjukkan bahwa pendekatan Membaca Berimbang mulai diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Dalam perbincangan bersama kami, Ibu Martha menyampaikan bahwa program ini sangat bermanfaat bagi sekolah karena membantu guru memiliki arah yang lebih jelas dalam mengajarkan keterampilan membaca. Bagi kami, pengalaman tersebut menegaskan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ketika guru semakin memahami kebutuhan siswanya dan menerapkan strategi pembelajaran secara konsisten, langkah kecil dapat membawa perubahan yang berarti.


Inspirasi berikutnya kami temukan di SD Inpres Papindung, yang dipimpin oleh Ibu Maria Hadijah Milla. Sekolah ini mengembangkan praktik menarik melalui Gelisa (Gerakan Literasi Sabtu). Tidak hanya diterapkan dalam pembelajaran di kelas, Membaca Berimbang juga menjadi bagian dari kegiatan literasi sekolah yang melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6.


Yang membuat Gelisa istimewa adalah cara sekolah mengelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan dukungan membaca, bukan semata-mata berdasarkan tingkat kelas. Dengan pendekatan ini, guru dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih sesuai dengan kemampuan setiap anak.


Inisiatif tersebut memperlihatkan keberanian sekolah untuk berinovasi demi memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik. Kami melihat bagaimana sebuah pendekatan pembelajaran dapat berkembang menjadi gerakan bersama ketika guru memahami kebutuhan anak dan memiliki semangat untuk terus mencari solusi.

Semangat yang Menyebar melalui Para Pendidik

Malam harinya, kami berkesempatan berbincang dengan tiga Fasilitator Daerah (Fasda), yaitu Ibu Maria, Ibu Joice, dan Bapak Sandri. Mereka merupakan bagian dari fasda yang dibina YLAI untuk mendukung penerapan Membaca Berimbang di Sumba Timur.

Kami sangat mengapresiasi dedikasi mereka dalam mendampingi guru dan membagikan praktik baik melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG). Peran mereka menjadi penting karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi sekolah mitra, tetapi juga berpotensi menjangkau lebih banyak guru dan siswa.

Bagi YLAI, keberadaan Fasda merupakan bagian penting dari upaya membangun keberlanjutan program. Ketika pendidik lokal mampu mendampingi dan menginspirasi rekan sejawat, perubahan tidak lagi bergantung pada kehadiran tim pendamping dari luar.

Pada hari kedua, kami mengunjungi SDN Taimanu dan disambut hangat oleh Kepala Sekolah, Bapak Jusak Adu, serta para guru. Lingkungan sekolah yang bersih dan luas, dengan pohon Sakura Sumba yang sedang bersemi, memberikan suasana yang menyenangkan.

Hal yang paling menggembirakan adalah melihat penerapan Membaca Berimbang yang telah menjangkau kelas 1 hingga kelas 6. Seluruh guru telah mendapatkan pelatihan dan pengimbasan, menunjukkan bahwa literasi mulai menjadi tanggung jawab bersama di tingkat sekolah.

Kemampuan membaca tentu tidak berhenti ketika anak mampu mengenali huruf dan membaca kata. Di kelas atas, siswa juga perlu terus mengembangkan kelancaran, pemahaman, serta kemampuan menggunakan informasi dari berbagai bacaan untuk belajar. Karena itu, penerapan Membaca Berimbang secara berkesinambungan menjadi langkah penting dalam mendukung perkembangan literasi anak. 

Sebelum meninggalkan sekolah, kami berfoto bersama para guru dan siswa di bawah pohon Sakura Sumba. Momen sederhana itu menjadi kenangan indah tentang kebersamaan dan harapan yang tumbuh melalui pendidikan.

Memperkuat Langkah Menuju Keberlanjutan
Perjalanan kami berlanjut ke Dinas Pendidikan Sumba Timur untuk berdiskusi dengan Ibu Arie Rambu, Kepala Bidang GTK; Bapak Rudy Sabakodi, Kepala Bidang SD; dan Ibu Delita Atanau, Kasi Kurikulum. Diskusi berfokus pada pelaksanaan program serta peluang memperluas penerapannya ke lebih banyak sekolah dasar.

Salah satu perkembangan penting adalah tercapainya fase You Do pada tahun kedua program, yaitu tahap ketika guru mulai mampu menerapkan keterampilan yang dipelajari secara lebih mandiri. Pencapaian ini menjadi modal berharga untuk memperkuat kemandirian guru dan mendorong perluasan praktik baik.

Melangkah Bersama untuk Masa Depan Literasi Anak

Dua hari di Sumba Timur memperkuat keyakinan kami bahwa Membaca Berimbang menjawab kebutuhan nyata guru dalam menghadapi keragaman kemampuan membaca anak. Kami menyaksikan bagaimana pendekatan ini diterapkan, dikembangkan melalui inovasi sekolah, diperkuat oleh para Fasda, dan mulai dibicarakan bersama pemerintah daerah untuk keberlanjutannya.

Kami meninggalkan Sumba Timur dengan rasa syukur dan optimisme. Terima kasih kepada seluruh kepala sekolah, guru, siswa, para Fasda, dan jajaran Dinas Pendidikan Sumba Timur atas sambutan, keterbukaan, dan komitmen mereka.
Karena pada akhirnya, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca dengan baik. Ketika guru memiliki pengetahuan, keterampilan, dan dukungan yang tepat, kesempatan itu semakin nyata. (Ayu Sugati)

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}

Berita Lain