Banjir yang merendam jalan menuju sekolah. Musim kemarau yang datang lebih panjang dari biasanya. Suhu udara yang terasa berbeda dari tahun ke tahun. Bagi banyak anak Indonesia, ini bukan lagi materi pelajaran di buku teks, melainkan kenyataan yang mereka alami sendiri.
Buku yang tepat bisa menggugah cara mereka memandang, memahami, dan kelak menghadapi perubahan yang sedang terjadi ini, sekaligus menjadi langkah pertama dari buku menuju aksi nyata.
OECD lewat kerangka PISA 2029 Climate Literacy Framework menempatkan literasi iklim sebagai salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki anak, bukan sekadar nilai tambah, melainkan bagian dari kesiapan mereka sebagai warga dunia. Anak dengan literasi iklim yang baik tidak hanya bisa membaca teks tentang lingkungan. Mereka belajar berpikir kritis, peduli pada sekitarnya, dan berani mengambil langkah nyata sejak usia dini.
Sebagai organisasi yang fokus pada pengembangan literasi anak, YLAI mengembangkan Seri Kenali Perubahan Iklim untuk menjawab tantangan ini. Seri ini berisi 32 buku nonfiksi informatif yang disajikan lewat konteks lokal dari 7 provinsi, mulai dari Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku, Papua, dan Kalimantan Utara.
Buku-buku ini mengangkat isu iklim dan lingkungan dengan sentuhan kearifan lokal, mulai dari tradisi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim hingga upaya menjaga kelestarian alam. Delapan tema besar yang diangkat membentang dari ancaman terhadap ekosistem dan satwa, ketahanan pangan, energi terbarukan, sampai kesehatan di tengah cuaca yang tidak menentu. Buku Menjaga Alam dengan Ritual Nunas Nede menceritakan tradisi masyarakat Desa Kesik di NTB yang terbukti membantu mitigasi kekeringan. Ada pula buku Rumahku Tak Gelap Lagi yang mengangkat cerita tentang warga NTT dalam mengatasi pemadaman listrik bergilir lewat energi matahari. Lain lagi dengan buku Kotaku Makin Panas membahas fenomena Bandung yang dulu sejuk kini kian panas akibat perubahan iklim, dan buku Amai Suku Kanume menggali warisan leluhur suku Kanume di Merauke dalam menjaga keseimbangan alam.
Ditujukan bagi pembaca Fase B dan C (kelas 3-6 SD), seri ini disusun berjenjang dari B2, B3, hingga C, sehingga kompleksitas bahasa bertambah seiring jenjang pembaca. Seluruh judul dibangun di atas kerangka Budaya Tangguh Iklim dengan empat kompetensi Pendidikan Perubahan Iklim, mulai dari memahami dampak, mengenali penyebab, belajar beradaptasi, hingga mengambil langkah mitigasi. Alurnya bergerak dari pengetahuan menuju kepedulian, dan dari kepedulian menuju tindakan nyata.
Soal kredibilitas tidak perlu diragukan lagi. Seluruh buku dalam seri ini sudah lolos Uji Kelayakan Buku Non-Teks dari Pusat Perbukuan Kemendikdasmen. Isinya disusun berdasarkan fakta dan data ilmiah, merujuk jurnal nasional dan internasional. Penyusunannya juga didampingi langsung oleh Ahli Klimatologi BMKG dan Ahli Visual Data dari Katadata.
Yang membedakan seri ini, anak-anak diberi ruang untuk benar-benar menikmati proses membacanya, bukan sekadar menyerap informasi. Setiap judul menyajikan teks kaya fakta dengan bahasa yang sesuai usia, dilengkapi ilustrasi menarik. Berbagai infografik, peta, grafik data, dan bagan proses dalam seri ini tersaji penuh warna. Seluruh fitur visual ini membantu anak memahami konsep yang sering kali sulit dibayangkan jika hanya disajikan lewat teks.
Tidak semua orang tua siap menjawab pertanyaan anak soal cuaca yang terasa makin aneh. Seri Kenali Perubahan Iklim membantu mengisi celah itu, menghadirkan penjelasan yang sudah disesuaikan dengan cara berpikir anak dan dekat dengan pengalaman keseharian mereka. Dari situ, rumah bisa menjadi tempat pertama anak belajar bahwa perubahan iklim bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian, dan buku yang sama bisa menjadi pembuka percakapan yang hangat antara orang tua dan anak.
Bagi pendidik, tantangan yang sebenarnya sering bukan soal minat mengajarkan isu iklim, melainkan soal waktu dan bahan ajar yang siap pakai di tengah padatnya kurikulum. Seri Kenali Perubahan Iklim hadir sebagai jawaban atas kebutuhan itu, lewat 32 modul ajar dan 4 perangkat pembelajaran interdisipliner berbasis proyek. Seluruh materi disusun oleh tim pendidik dari 7 provinsi, dengan pendampingan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, dan selaras dengan Panduan Pendidikan Perubahan Iklim serta pendekatan Pembelajaran Mendalam. Dengan begitu, guru tidak perlu menyusun bahan ajar iklim dari nol, sementara anak tidak berhenti pada menghafal fakta, melainkan diajak menghubungkan konsep, merefleksikannya secara kritis, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
Generasi yang tangguh menghadapi perubahan iklim tidak lahir begitu saja. Mereka perlu dibekali sejak dini, dari buku yang tepat, di tangan yang tepat, buku yang membuat anak bukan hanya paham apa yang terjadi pada bumi, tetapi juga yakin bahwa mereka bisa ikut menjaganya.
Jika Anda ingin mengenalkan anak pada isu iklim lewat bacaan yang menarik atau sedang mencari bahan ajar iklim yang siap digunakan di kelas, jelajahi katalog lengkap Seri Kenali Perubahan Iklim di s.literasi.org/KatalogBuku. (Grace Mailuhu)