Muridku Sekarang Tak Lagi Malu

Home / Kabar Kami / Muridku Sekarang Tak Lagi Malu

Afif Rahman (29), guru Bahasa Indonesia Sekolah Dasar Negeri Sengon 01, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memperlihatkan sejumlah cerita murid-murid kelas III. Ia begitu bersemangat dan bangga.
Puluhan guru sekolah dasar dari sembilan provinsi mengikuti pelatihan sebagai fasilitator program membaca dari USAID di Denpasar, Bali, akhir Desember 2015. Mereka dilatih cara menghidupkan kelas agar siswa menjadi aktif berimajinasi hingga senang membaca buku. Program ini memasuki tahun keempat, dan menurut rencana pada 2016 ini akan dibagikan 3 juta buku bacaan anak bekerja sama dengan Yayasan Literasi Bali.
“Nah, ini cerita-cerita kreatif mereka. Imajinasi mereka. Satu gambar yang saya berikan begitu beragam diceritakan. Ini kemajuan,” kata Afif di sela-sela pelatihan di Denpasar, Bali, akhir Desember 2015.
Sebelumnya, tulisan anak didiknya, menurut Afif, tidak lebih berwarna seperti sekarang. Semenjak ia terpilih menjadi guru untuk program Gemar Membaca dari USAID PRIORITAS (USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students), ia terpacu untuk lebih kreatif.
Sedikit kata, lebih banyak variasi gambar, memang terbukti lebih efektif menggali imajinasi dan keaktifan murid-muridnya. Saat menampilkan gambar-gambar, misalnya, ada ayah dan anak tengah memancing di atas kapal, murid Afif pun bersahut-sahutan tentang segala hal soal memancing. Bahkan, mereka bermain-main dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lokasi belajarnya pun divariasikan oleh Afif tidak hanya di ruang kelas. Meskipun terbatas, ia bisa memanfaatkan ruang mushala sekolah.
Kelegaan, kebanggaan, dan kegembiraan senada juga dituturkan Munadiyah (52), Kepala SD Negeri 6 Lapungkoda, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ia pun membanggakan anak didiknya yang mulai bersemangat terkait rasa ingin tahu mereka dari beragam buku.
“Sebelum ikut program ini, kami meminta anak-anak bisa meminjam buku di perpustakaan, dan menceritakan lagi isinya di kelas. Namun, belum maksimal,” kata Munadiyah.
Setelah menerapkan program dari USAID, tak perlu ditugasi, anak-anak semangat membaca dan bercerita lagi dengan versi mereka. Tiga bulan merupakan perkembangan pesat buat Munadiyah, begitu pula Afif.
Program gemar membaca ini melanjutkan program peningkatan mutu sekolah dalam menerapkan praktik yang baik dalam pembelajaran dan budaya membaca dari USAID PRIORITAS.
USAID PRIORITAS adalah program lima tahun, 2012-2017, yang didanai oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) yang didesain untuk meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas di Indonesia. USAID PRIORITAS adalah bagian dari program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat.
Program ini telah diterapkan di sembilan provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Barat.
USAID PRIORITAS Saat ini melatih lebih dari 100 fasilitator pada penyegaran tingkat nasional modul III SD/MI. Peserta pelatihan berasal dari tujuh provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Mereka dilatih dapat menerapkan hasil pelatihan, dan melatih di daerahnya dalam mengembangkan sekolah bermutu.
Menurut Stuart Weston, Direktur Program USAID PRIORITAS, program pelatihan penyegaran fasilitator tingkat nasional ini merupakan bagian dari upaya terus-menerus meningkatkan kualitas pendidikan dasar. “Kami menilai, gemar membaca pada anak-anak Indonesia masih rendah dan perlu pendampingan. Ini termasuk guru-gurunya pula yang perlu dilatih memberi contoh,” katanya.
Ini merupakan tahun keempat program USAID tersebut. Hingga saat ini, program berhasil melatih lebih dari 2.000 fasilitator daerah dan siap menularkan dan mendampingi lebih dari 1.000 sekolah dan madrasah mitra USAID PRIORITAS.
Tahun ini istimewa karena Weston memutuskan bekerja sama menerbitkan buku-buku yang sesuai dengan usia anak SD. Menurut dia, buku yang beredar saat ini belum sesuai karena gambar terlalu banyak dan banyak kata.
“Banyak gambar dan kata bisa menumpulkan kreatif anak dan guru. Kami mendorong guru lebih kreatif sehingga strategi pembelajaran lebih bervariasi untuk memberi kesempatan siswa membaca dalam proses pembelajaran dan lebih intensif memeriksa pemahaman murid dalam membaca,” kata Weston.
Oleh karena itu, USAID akan memberikan lebih dari delapan juta buku bacaan berjenjang ke 13.000 SD dan Madrasah Ibtidaiyah untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Pemberian buku bekerja sama dengan Yayasan Literasi Anak Indonesia, Bali.
Buku tersebut dibuat berjenjang, berdasarkan tingkat kemampuan membaca anak, yaitu mulai tingkat A (anak mulai belajar membaca) sampai tingkat F (anak sudah lancar membaca). Tujuannya, agar anak-anak menjadi lebih mudah belajar membaca, lebih mudah memahami isinya karena buku tersebut sesuai dengan kemampuan membaca siswa.
“Dengan buku tersebut diharapkan siswa menjadi lebih tertarik untuk banyak membaca buku, dan sekaligus belajar meningkatkan kemampuan membacanya,” kata Aprile Denise, Advisor Yayasan Literasi Anak Indonesia.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Bali I Nyoman Subrata akan meminta pihak sekolah agar menyisihkan dana BOS (bantuan operasional sekolah) untuk membeli buku.
(AYU SULISTYOWATI)
————————-
keterangan gambar:
Puluhan guru sekolah dasar dari sembilan provinsi mengikuti pelatihan sebagai fasilitator program membaca dari USAID di Denpasar, Bali, akhir Desember 2015. Mereka dilatih cara menghidupkan kelas agar siswa menjadi aktif berimajinasi hingga senang membaca buku. Program ini memasuki tahun keempat, dan menurut rencana pada 2016 ini akan dibagikan 3 juta buku bacaan anak bekerja sama dengan Yayasan Literasi Bali.
KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Sumber: http://goo.gl/6UA15n

Comments(0)

Leave a Comment