Monitoring Pengelolaan Perpustakaan yang Kedua di Papua

Home / Kabar Kami / Monitoring Pengelolaan Perpustakaan yang Kedua di Papua

Kurang lebih 5 bulan lalu, tim YLAI berkunjung ke Papua untuk melihat tindak lanjut pengelolaan perpustakaan di sekolah-sekolah dampingan UNICEF Papua. Pada bulan Maret, tim YLAI kembali berkunjung ke 6 kabupaten, yakni Sorong, Jayawijaya, Timika, Biak, Jayapura, dan Manokwari. Masih lekat dengan pengalaman sebelumnya, perjalanan ke sekolah-sekolah selalu menantang karena cukup jauh. Namun, selalu ada harapan bahwa pengelolaan perpustakaan selalu berkembang.

Tim YLAI tiba di Papua pada tanggal 5 Maret 2018. Kami segera berpencar ke masing-masing wilayah tujuan. Keesokan harinya, kami menuju ke sekolah-sekolah untuk melihat perkembangan pengelolaan perpustakaan. Banyak hal kami jumpai di tempat kunjungan kami masing-masing. Tiap sekolah menunjukkan dinamika yang berbeda. Dalam hal ini, kami selalu mengapresiasi setiap usaha yang telah dilakukan oleh pihak sekolah, baik kepala sekolah, pengelola pustakawan, maupun pihak yang lain seperti guru, anak-anak, dan komite sekolah. Mereka memberi respon yang bagus dalam menerima program perpustakaan ramah anak. Setidaknya, kami selalu ingat bahwa pada awal kunjungan kami ketika menentukan sekolah mana yang akan bekerjasama dengan kami, sangat susah untuk mendapatkan sekolah yang memiliki perpustakaan. Kini, keadaan sudah lain. Memang, perubahan tidak dapat dilakukan dengan cepat. Sekolah-sekolah yang kami kunjungi tidak hanya mempunyai perpustakaan, tetapi juga mengupayakan pengelolaan yang lebih baik.

Di Biak, misalnya, terdapat 5 sekolah pilot yang sedang dikembangkan. Masing-masing menunjukkan warna sendiri dalam mengelola perpustakaan. Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari peran kepala sekolah. Salah satu sekolah yang menunjukkan semangat mengembangkan perpustakaan adalah SD YPK Dwar. Ibu Mina Wabison, yang menjadi pengelola perpustakaan, sangat antusias untuk bisa mewujudkan perpustakaan ramah anak sehingga dapat mendorong minat baca anak. “Anak-anak sudah mulai senang membaca di perpustakaan sekarang,” katanya di sela-sela kunjungan kami. Dalam hal jam kunjung perpustakaan, sekolah juga sudah mengupayakan kegiatan tersebut berjalan. Bapak Adrian selaku kepala sekolah juga selalu mengingatkan para guru untuk mengajak anak-anak untuk berkunjung ke perpustakaan sebagaimana dijadwalkan.

Perpustakaan, pada akhirnya menjadi tempat untuk anak membaca. Hal ini selalu kami ingatkan kepada pihak-pihak di sekolah. Semoga, kunjungan kedua ini semakin memberi manfaat bagi sekolah untuk terus berusaha menata perpustakaannya.

Di tempat lain, di salah satu sekolah di Kabupaten Jayawijaya, kehadiran perpustakaan memberi nuansa berbeda bagi anak-anak. Membaca buku cerita ternyata menjadi hal yang sangat istimewa. Mereka bisa mengenal cerita dari latar belakang budaya berbeda. Ibu Eka, salah satu anggota tim YLAI, yang juga menulis buku “Jana Tidak Bisa Tidur” memiliki kesempatan membacakan buku ceritanya kepada anak-anak pada saat kunjungan. Anak-anak nampak senang dan terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Mereka tak perlu khawatir, di perpustakaan mereka tersedia buku-buku cerita yang bagus dan boleh dibaca setiap saat.

Di sekolah-sekolah yang kami kunjungi, perpustakaan masih terus berbenah. Anak-anak yang selalu ingin membaca harus selalu diberi kesempatan. Pengelolaan yang lebih baik akan membantu anak-anak gemar membaca sehingga dari sana tumbuh kebiasaan membaca.

Comments(0)

Leave a Comment

Hallo
Send via WhatsApp