Meningkatkan minat belajar siswa melalui Membaca Berimbang

Home / Kabar Kami / Meningkatkan minat belajar siswa melalui Membaca Berimbang

Langit cerah terbentang di atas SD Inpres Rita Kaka pagi itu. Semua siswa sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Di kelas 1A, anak-anak duduk dengan tertatur berdasarkan kelompok yang sudah ditetapkan. Kursi diatur sedemikian rupa sehingga semua anggota kelompok saling berhadapan. Ada 4 kelompok yang terbentuk dan dinamakan dengan nama buah yaitu mangga, pepaya, sirsak, dan apel. Di lantai di bagian depan kelas, selembar tikar yang cukup luas digelar.

Semua siswa menunggu dengan rasa penasaran. Di depan, duduk di atas kursi tak berpegangan adalah Yublina Dapaole, guru yang mengampu kelas tersebut. Di tangannya sudah ada sebuah buku dengan gambar kartun. Ia mulai memanggil siswa berdasarkan kelompoknya untuk maju dan duduk di atas tikar. Hari itu adalah pertemuan kedua Membaca Interaktif, salah satu dari 4 unit dalam Program Membaca Berimbang yang diimplementasikan oleh INOVASI bersama Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI).

Sebelum kegiatan dimulai, Lince demikian ia biasa disapa, mengingatkan kembali aturan yang harus dipatuhi oleh siswa selama kegiatan berlangsung seperti mengangkat tangan jika ingin bertanya atau menjawab, tidak menimbulkan keributan dan tidak mengganggu temannya yang lain. Ia juga memperkenalkan yel. “Kalau Bu Guru bilang, ‘kelas, kelas’, dong semua bilang apa?”, tanyanya antusias. “Yes, yes!” sambut semua siswa serentak, tak kalah semangatnya. Yang terakhir adalah saat ia menyorakkan “Pasangan diskusi”, sontak semua siswa riuh mencari pasangan. Aturan ini digunakan saat sesi diskusi selama kegiatan.

Lince membacakan judul buku yang akan menjadi bahan bacaan hari itu. “Jadi, hari ini kita akan membaca buku yang berjudul Poni jangan lari!” katanya memulai, membacakan judul buku. Buku ini menceritakan seekor anjing yang terlepas dan mengganggu orang-orang yang ada dalam cerita. Setiap selesai membaca beberapa kalimat, Lince bertanya kepada siswa. “Mengapa Poni senang?” tanya Lince yang kemudian disambut dengan jawaban serentak dari siswa, “Karena mau main.” Pertanyaan-pertanyaan digunakan untuk membangun interaksi dengan siswa sekaligus merangsang keingintahuan siswa terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah cerita dibacakan, Lince kemudian mengambil sebuah kartu berwana kuning yang bertuliskan kata “Masalah” dari atas meja dan meminta siswa membacanya. “Nah, jadi apa masalah yang ada dalam cerita barusan?” lanjut Lince mencoba melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap cerita. Seorang siswa menjawab bahwa Poni menggigit rok Tante Lala, salah satu tokoh dalam cerita. Siswa lainnya menjawab Poni mengganggu sampai menjatuhkan teman Beni, si pemilik Poni.

“Kalau ada masalah, jangan dibiarkan saja. Kita harus menyelesaikannya.” Lince melanjutkan dengan mengambil kartu lain yang bertuliskan kata “Solusi” dan bertanya kepada siswa bagaimana menyelesaikan masalah yang ada dalam cerita tersebut. Sejumlah siswa mengangkat tangan. “Beni mengikat Poni, lalu mengajaknya jalan-jalan, terus pulang ke rumah,” jawab salah seorang siswa.

Langkah terakhir dari aktivitas ini adalah mengenal kosakata baru. Ada empat kosakata baru dalam cerita yang baru saja diceritakan. Lince memulai dari kata “Om” dan menjelaskan makna dari kata tersebut. Lalu menanyakan huruf yang memulai kata tersebut dan dijawab oleh semua siswa, “Ooooo”. Salah seorang siswa lalu menempelkan kata tersebut di dinding kosakata yang sudah disiapkan di bawah huruf O. Tiga kata lainnya yaitu “Tante”, “Kelelahan”, dan “Semaksemak” dilakukan dengan cara yang sama.

Setelah kegiatan selesai, siswa dipersilakan untuk kembali ke tempat duduk masing-masing berdasarkan kelompoknya. Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Menurut Yosina S. Pakereng, Kepala Sekolah SD Inpres Rita Kaka, berkat program ini kehadiran siswa meningkat drastis. “Dulu setelah libur berakhir, banyak siswa yang menambah liburnya tapi sekarang mereka sudah hadir sejak hari pertama sekolah,” ungkapnya. Buku-buku menarik dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang lebih interaktif adalah alasan mengapa siswa-siswa rajin ke sekolah.

Sementara itu Lince mengaku materi-materi yang didapatkan selama KKG sangat membantunya dalam

menciptakan suasana KBM yang lebih menarik. “Sebelumnya, saya tidak tahu ternyata menggunakan buku cerita bergambar dan cara bercerita berpengaruh besar pada minat belajar siswa. Pengaturan kursi siswa juga membuat anak-anak lebih aktif dan fokus pada saat KBM. Sejak saya menggunakan metode dan media belajar yang dipelajari di KKG, anak-anak menjadi lebih aktif dalam kelas,” ungkap Lince semringah melihat perkembangan anak-anak didiknya.

Senada dengan itu, Karolina Daindo yang merupakan guru kelas 2A mengatakan melalui KKG, ia belajar untuk menggunakan metode yang konkret untuk membantu siswa lebih cepat memahami pelajaran. “Anak-anak menjadi terbantu dengan adanya abjad besar di dinding kosakata. Buku-buku yang ada di sudut baca menarik minat anak-anak untuk membaca. Mereka juga lebih interaktif dan tidak malu-malu untuk angkat tangan ketika menjawab pertanyaan,” cerita guru yang mengenakan sarung khas Sumba warna merah ini.

Asnath A. S. Taniu atau yang akrab disapa Shanty, Field Officer YLAI yang turut hadir hari itu menjelaskan bahwa Membaca Interaktif dilakukan 15-20 menit sebelum KBM. Satu buku acuan akan digunakan untuk 3 kali pertemuan dalam 1 pekan dengan fokus berbeda. Pertemuan pertama untuk pengenalan cerita. Pertemuan kedua untuk memahami cerita lebih dalam dan menyeluruh. Sementara pertemuan ketiga digunakan untuk merefleksikan kembali cerita yang sudah dibahas. Kegiatan Membaca Interaktif merupakan bagian dari Program Membaca Berimbang dan akan diikuti dengan tiga kegiatan membaca lainnya, yaitu Membaca Bersama, Membaca Terbimbing dan Membaca Mandiri. SDI Rita Kaka adalah satu dari 10 sekolah dampingan YLAI di Kab. Sumba Barat Daya yang tersebar di 2 kecamatan, 4 sekolah di Kec. Wewewa Tengah dan 6 sekolah di Kec. Wewewa Timur.

Sumber : BERITA INOVASI Nusa Tenggara Timur Edisi April – Juni 2019

Comments(0)

Leave a Comment

Hallo
Send via WhatsApp