CEPUK TERBANG KEMANA-MANA

Home / Kabar Kami / CEPUK TERBANG KEMANA-MANA

Bisakah sebuah buku membawamu terbang jauh ke negeri penuh misteri? Tentu saja bisa! Dan itulah yang terjadi pada saya. Semua berawal dari saran seorang editor kesayangan agar saya untuk mengikuti audisi penulis buku anak yang diadakan oleh Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) untuk proyek bersama dengan Room to Read. Saya tidak percaya diri! Saat itu, saya hanyalah penulis artikel di berbagai media dan tidak penah sekali pun menulis cerita untuk anak, apalagi sebuah buku! Namun, tidak ada salahnya mencoba. Saya pun mengirimkan sebuah naskah pendek. Akan tetapi, tidak ada kabar hingga beberapa minggu….

Hingga pada suatu siang yang gerimis di bulan Desember 2014, saya menerima panggilan telepon dari YLAI yang mengabarkan bahwa saya terpilih untuk mengikuti workshop penulisan buku cerita anak. Terkejut? Tentu saja! Dan sekaligus berdebar karena seakan-akan saya memasuki ‘dunia baru’ yang sama sekali asing! Maka, petualangan saya pun dimulai. Saya begitu kikuk berada di antara puluhan penulis buku anak ternama, begitu malu saat harus membacakan naskah yang saya buat saat itu dan begitu bingung dengan berbagai istilah penulisan buku anak. Saya juga kebingungan meringkas kalimat panjang menjadi kalimat pendek tanpa mengurangi makna cerita. Jujur, menulis buku anak ternyata tidak semudah yang saya sangka selama ini!

Saat itu, saya sangat rindu dengan Owlet, burung hantu peliharaan saya di rumah. Sehingga saya pun terinspirasi untuk menulis cerita tentang Owlet. Tokoh Cepuk ini awalnya bernama Owlet, tapi kemudian editor YLAI meminta saya menggantinya dengan nama yang lebih lokal. Nama ‘Cepuk’ saya pilih karena burung hantu peliharaan saya adalah jenis burung hantu Celepuk yang merupakan endemik di Indonesia.

Proses ilustrasi juga merupakan suatu proses yang mencengangkan. Saya mengirimkan foto Owlet kepada Jackson, yang mengilustrasikan buku ini. Jujur, saya menangis saat pertama kali melihat ilustrasi Cepuk buatan Jackson, ilustrasinya sangat mirip Owlet!

Setelah ‘Waktunya Cepuk Terbang’ diterbitkan, saya menerima berbagai feedback bahwa Cepuk cukup mengena di hati anak-anak yang membacanya. Hal yang sangat mengharukan pun saya alami ketika Owlet meninggal di usia tua. Saya menerima banyak ucapan belasungkawa untuk Owlet/Cepuk dari anak-anak, bahkan dari berbagai negara, yang tersentuh oleh buku ini! Saya tak pernah menyangka karya pertama saya akan begitu disayang oleh para pembaca cilik ini.

Tak bisa dipungkiri, sedikit banyak, Cepuk lah yang membawa saya terbang menimba ilmu ke negara lain, dimulai dari penghargaan yang diraih Cepuk di Samsung KidsTime Author’s Award 2016 di Singapura. Lalu, Cepuk membawa saya terbang ke Inggris untuk menjalani residensi penulis selama 1,5 bulan dengan dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta KBN (Komite Buku Nasional). Cepuk juga menjadi ulasan utama saya untuk menggambarkan betapa semaraknya dunia buku cerita anak di Indonesia saat ini, ketika saya menjadi salah satu pembicara dengan tema ‘Indonesia’s Children Books and Its Development” di Frankfurt Book Fair 2017.

Sungguh suatu pengalaman berkesan dan tentunya semua ini tak terlepas dari dukungan mentor Room to Read, para editor dan disainer YLAI serta illustrator yang menjadikan Cepuk begitu ‘hidup’ dan mampu diterima oleh banyak anak! Kerjasama saya dengan YLAI pun terus berlanjut. ‘Ketika Paman Kala Diam’ menjadi buku kedua saya yang diterbitkan oleh YLAI dalam proyek Room to Read berikutnya. Ada juga 2 judul buku baru yang sedang kami kerjakan. Nantikan kehadirannya, ya!  

Comments(0)

Leave a Comment