Budaya membaca muncul di sekolah terpencil di Sumba Barat

Home / Kabar Kami / Budaya membaca muncul di sekolah terpencil di Sumba Barat

Oleh: Aprile Denise, Literacy Advisor, Yayasan Literasi Anak Indonesia

Perjalanan melalui hutan liar dan pemandangan bukit yang menakjubkan memakan waktu hampir 2 jam ketika kami menyeberangi sungai kecil untuk mencapai SDI Kabali Bedu, di bagian pedesaan Sumba Barat. Anak-anak berlari dari segala arah untuk bertemu dan menyambut kami di dunia mereka, yang mungkin jarang dikunjungi orang luar. Kami datang ke sekolah ini untuk mengamati bagaimana program membaca YLAI, kemitraan dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), diterapkan di kelas-kelas awal, setelah guru menerima pelatihan dari fasilitator daerah (Fasda) dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) mereka.

Kami disambut dengan hangat oleh wakil kepala sekolah, Ibu Robu Boru Huatu, yang membimbing kami ke kelas satu diikuti oleh sekelompok kecil anak-anak yang membawa kaleng air plastik. Kami diberitahu bahwa anak-anak bergiliran membawa air dari sumur di luar sekolah untuk digunakan pada siang hari. Kami masuk ke dalam ruang kelas satu, yang hanya setengah diterangi oleh sinar matahari yang menembus jendela-jendela kecil. Ketika mata saya menyesuaikan diri dengan ruangan, kesan pertama saya adalah sudut yang dicat dengan warna-warni, rak-rak penuh buku, dan tulisan “Pojok Baca”. Anak-anak memberikan salam kepada kami dan guru mengarahkan saya untuk duduk di bangku dekat salah satu meja kayu kecil mereka. Dia kemudian membimbing kelas untuk pindah ke area membaca untuk pelajaran Membaca Bersama.

Saya sangat penasaran untuk menyaksikan pelajaran ini, komponen kedua dari Program Bacaan Berimbang kami, yang merupakan kemitraan dengan INOVASI. Buku Besar yang dipilih ditaruh di sandaran papan tulis, dan guru duduk di sampingnya dengan tongkat penunjuk untuk membimbing siswa ketika dia memberikan contoh cerita kepada mereka. “Apakah Pisangya?” adalah cerita yang menyenangkan, dikembangkan oleh YLAI, tentang seekor monyet kecil yang mencari pisang di rumah petani, dan menyebabkan banyak kekacauan. Anak-anak duduk di karpet dengan bersemangat mengikuti cerita, dan guru mengajak mereka untuk menjawab pertanyaan dan menunjukkan kata-kata yang mereka kenali di halaman. Mereka semua jelas terlibat dalam cerita, mencari gambar-gambar dan bergabung dalam bacaan dengan guru.

Di akhir sesi, ketika anak-anak mulai kembali ke meja mereka, saya bertanya kepada guru apakah ia bisa memberi anak-anak waktu 10 menit lagi di sudut baca untuk membaca sendiri. Saya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan. Benar saja, segera setelah guru pindah, sekelompok kecil anak-anak berkerumun di sekitar Buku Besar di papan tulis, dan seorang anak lelaki kecil duduk di kursi guru, dengan tongkat penunjuk, dan mulai meniru proses membaca. Dia mengarahkan tongkat penunjuk ke kata-kata sementara anak-anak lain membaca cerita dengan keras. Anak-anak lain berkumpul untuk mendapatkan giliran mereka juga. Itu adalah salah satu momen berharga, ketika sudah jelas pelajaran yang diperagakan telah ditransfer ke siswa. Saya pikir saya lebih bersemangat daripada gurunya, yang mulai khawatir kelas mungkin akan lepas kendali!

Membawa perubahan dalam bentuk budaya baca yang kuat ke daerah-daerah terpencil di Indonesia merupakan tantangan besar, mengingat kurangnya pelatihan dan buku yang memadai. Namun, saya masih merasa berbesar hati saat menyaksikan perubahan kecil yang muncul di para siswa ini. Anak-anak dilahirkan untuk berkomunikasi, sehingga diskusi yang terjadi selama sesi membaca bersama bukan hanya tentang membaca, tetapi lebih banyak tentang mengkomunikasikan ide. Ketika cerita diperagakan kepada anak-anak melalui buku yang menarik, itu membuka dunia imajinasi dan koneksi ke kehidupan mereka. Mereka mulai membuat makna dari cerita melalui gambar dan teks, dan inilah yang saya lihat dengan sangat jelas pagi itu di ruang kelas satu ini. Anak-anak terlibat dalam proses membaca, anak-anak bersemangat untuk terus membaca, anak-anak mengajar anak-anak, anak-anak cinta dengan cerita.

Melalui program Membaca Berimbang di sekolah dasar, YLAI menggunakan buku menarik yang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Sesi membaca interaktif dan sudut baca memperkenalkan anak-anak pada kecintaan akan cerita dan banyak kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagi ide dan pemahaman yang lebih dalam. Proses membaca Buku Besar diperagakan melalui sesi membaca bersama dengan seluruh kelas, sementara sesi membaca yang dipandu dalam kelompok-kelompok kecil menyediakan buku bacaan berjenjang yang cocok untuk membimbing siswa lebih intensif dalam proses membaca. Selama tiga sesi pelatihan, para guru diperkenalkan dengan semua komponen dari pendekatan membaca ini, dan memasukkan sesi-sesi tersebut ke dalam kurikulum bahasa Indonesia mereka yang sudah ada.

Para guru sekarang mulai mendiskusikan bacaan dalam sesi KKG mereka. Dengan INOVASI, YLAI berkomitmen untuk membawa perubahan dalam pendekatan literasi ini untuk anak-anak, yang memiliki keinginan alami untuk berkomunikasi melalui cerita di setiap tingkat. Membaca untuk makna dan tujuan akan membuka pintu baru untuk pembelajaran mereka yang beralih dari mode pengajaran tradisional, ke cara yang lebih interaktif, dan lebih dalam untuk mengakses pengetahuan. Terima kasih SDI Kabali Bedu karena mulai membuka pintu untuk memungkinkan hal ini terjadi di sudut terpencil Sumba Barat.

Source : INOVASI https://bit.ly/2Wn7xem

Comments(0)

Leave a Comment

Hallo
Send via WhatsApp