BERKARYA DARI HATI

Home / Kabar Kami / BERKARYA DARI HATI

Made Yudiarta

Pak Made adalah satu dari 12 pustakawan inspiratif yang dimiliki Kabupaten Badung. Titik balik profesinya terjadi saat mulai mengenal Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI). Pertemuan Pak Made dengan YLAI terjadi saat beliau dipercaya untuk mewakili sekolahnya, SDN 1 Darmasaba, mengikuti pelatihan pengelolaan perpustakaan bersama 12 pustakawan terpilih lainnya. Selanjutnya, berbekal ilmu yang didapat selama pelatihan bersama YLAI, dan didukung oleh kepala sekolah serta bekerjasama dengan guru-guru, Pak Made selaku pustakawan mampu mengoptimalkan fungsi perpustakaan sekolah yang sudah ada dengan menata ulang perpustakaannya sehingga menjadi perpustakaan yang ramah anak.

Berbagai buku yang disediakan oleh YLAI diberi stiker penanda jenjang untuk memudahkan anak memilih buku, buku-buku disusun per jenjang dengan cara yang menarik di rak-rak berwarna-warni, sistem peminjaman dibuat praktis dan perabotan ditata ulang sehingga terdapat ruang yang nyaman bagi anak untuk membaca.

Untuk mendukung penumbuhan kebiasaan membaca, sekolah juga sepakat memasukan kunjungan terjadwal untuk setiap kelas. Setiap kelas wajib berkunjung ke perpustakaan satu kali seminggu dengan didampingi guru kelas untuk melakukan kegiatan membaca.

Perpustakaan SDN 1 Darmasaba sekarang sangat berbeda jika dibandingkan dengan sebelum mendapat proyek. Sekarang, suasana perpustakaan terasa sangat dinamis dan hidup. Pak Made menemukan cara yang efektif untuk mengoptimalkan fungsi perpustakaan yang sudah ada. Pak Made selaku pustakawan yang telah bertugas hampir 2 tahun ini merasa sangat puas bisa membuka jalan bagi siswa untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Melihat antusiasme siswa untuk datang ke perpustakaan membuat Pak Made semakin bersemangat untuk selalu mengembangkan diri agar selalu bisa menjadi agen perubahan dalam menciptakan siswa-siswa berkarakter melalui tumbuhnya kebiasaan membaca.

Ni Luh Gede Hermayani Rossandiari

Bu Herma, demikian ia akrab dipanggil oleh siswa-siswanya, telah menjadi guru selama 8 tahun. Ibu Herma mengajar di SDN 1 Kapal Mengwi, Kabupaten Badung. Profesi guru yang dilakoninya ini pada awalnya dipilih atas dorongan orang tuanya. Sebuah dorongan yang membawa perubahan besar pada hidup Ibu Herma sebagai seorang individu dan juga pada hidup siswa-siswa yang diajarnya. Bagi Ibu Herma, menjadi guru bukan hanya sekedar pekerjaan, tapi merupakan bagian dari jiwanya. Menjadi guru memungkinkannya untuk berbagi dalam setiap kesempatan, baik kepada siswa maupun kepada teman sejawat.

Ada sebuah titik yang membawa dampak besar dalam perjalanannya sebagai seorang guru, yaitu ketika ia mulai mengenal Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) beberapa tahun yang lalu. Kala itu dalam sebuah pelatihan Ibu Herma mulai mengenal beberapa buku cerita anak karya para penulis YLAI. Buku-buku itu dirasa sangat berbeda dengan buku yang ditemukannya selama ini. Buku-buku karya YLAI interaktif dan ilustrasi yang dibuat menunjang isi bacaan. Buku-buku itu kemudian dibagikan kepada beberapa sekolah termasuk sekolah Ibu Herma. Oleh Ibu Herma, buku-buku itu kemudian dipajang untuk memperkaya pojok baca di kelasnya. Antusiasme anak-anak dalam membaca buku-buku itu membuat Ibu Herma bersemangat, itu menunjukkan perubahan yang positif. Kemudian membagikan pengalaman itu kepada rekan sejawatnya melalui media sosial.

Kali kedua, Ibu Herma bersama 12 orang guru terpilih, mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan kegiatan membaca di perpustakaan ramah anak bersama YLAI. Ibu Herma mempelajari berbagai pendekatan membaca untuk membantu siswa menumbuhkan kebiasaan membaca. Pelatihan ini membawa perubahan pada teknik mengajarnya. Setiap kali Ibu Herma membacakan buku, ia dapat mengambil hati dan perhatian siswa. Hal yang tidak mudah dilakukan sebelumnya. Teknik yang diajarkan YLAI ini sangat membantu pekerjaannya sebagai seorang guru dan berdampak besar bagi siswa-siswanya. Selalu ada sesuatu yang baru yang dipelajari seorang anak dari sebuah buku.

Menjadi guru membuatnya terus belajar. Terus mempelajari kebutuhan siswa dan cara mendukung siswa mencapai potensi maksimal mereka. Memerlukan kesabaran dalam memfasilitasi kebutuhan setiap siswa, tetapi merupakan kepuasan tersendiri sebagai seorang guru ketika melihat siswanya belajar. Menjadi guru memberi Ibu Herma kesempatan untuk bertumbuh bersama mereka.

Kini, siswa-siswanya terbiasa mendengarkan cerita, pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi baru, dan selalu menunggu cerita baru yang akan Ibu Herma bacakan. Praktik yang dilakukan Ibu Herma menginspirasi guru-guru lain untuk melakukan hal yang sama. Membaca cerita membuka dunia baru bagi anak-anak. Dampak program YLAI ini sangat besar, baik bagi Ibu Herma sebagai individu maupun sebagai seorang guru karena guru terbaik mengajar dari hati.

Comments(0)

Leave a Comment