Akhir yang Menjadi Awal Mula

Home / Kabar Kami / Akhir yang Menjadi Awal Mula

Kamis 30 Agustus 2018 menjadi pagi istimewa yang ditunggu-tunggu oleh para kepala sekolah, guru-guru dan pustakawan yang terlibat dalam proyek perpustakaan ramah anak siklus satu dan juga staff YLAI. Pagi itu menjadi pagi pertama setelah 20 bulan mereka semua terakhir berkumpul dalam pelatihan pengelolaan perpustakaan dan pelatihan kegiatan membaca. Dua puluh bulan sekolah-sekolah telah menjalankan perpustakaan ramah anak ini. Kini saatnya bertemu dan berbagi cerita. Banyak senyum, jabat tangan, pelukan, dan cerita yang dibagikan oleh sekitar 60 orang peserta yang hadir pagi itu di ruang pertemuan sandat dinas kebudayaan kabupaten Badung dalam acara serah terima perpustakaan siklus 1.

Acara serah terima ditandai oleh penyerahan program dari Yayasan Literasi Anak Indonesia kepada Dinas terkait. Kemudian dengan disaksikan oleh YLAI dan Provisi, acara dilanjutkan dengan serah terima sertifikat pencapaian pengelolaan perpustakaan dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga didampingi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan kepada 12 sekolah mitra di Kabupaten Badung.   Rasa bangga dan haru meliputi acara serah terima perpustakaan tersebut. Bangga melihat sekolah-sekolah telah mampu menjalankan program secara mandiri, bangga atas komitmen bersama yang disampaikan sekolah untuk melanjutkan keberlangsungan program secara mandiri dan haru mendengarkan cerita-cerita sukses yang disampaikan masing-masing sekolah. Salah satu cerita suskses disampaikan oleh Ibu Nyoman Sukasih, Kepala Sekolah SDN 2 Darmasaba. Sebuah cerita transformasi dari siswa yang belum percaya diri dalam membaca menjadi siswa yang terbiasa membaca.

Seorang siswa kelas 4 yang belum memiliki kepercayaan diri dalam membaca diam-diam selalu memperhatikan kesibukan teman-temannya yang selalu berkumpul seru di area perpustakaan. Teman-temannya menceritakan buku-buku yang mereka baca di perpustakaan. Siswa tersebut kerap duduk bersama kelompok teman-temannya tersebut hanya untuk mendengarkan cerita seru yang disampaikan teman-temannya. Dari hanya mendengarkan, lama-lama muncul rasa penasaran. Mulai dari tertarik mendengarkan kemudian tertarik untuk masuk ke perpustakaan dan pura-pura membaca. Diam-diam dia mengunjungi perpustakaan dan memilih buku yang menarik untuk dia. Pustakawan menemani siswa itu, dan membimbingnya untuk menikmati buku yang disukainya. Dengan hanya melihat gambar, perlahan dia mulai bisa membaca buku dengan jenjang yang sesuai dengan kesiapannya. Banyak buku yang telah dipinjamnya untuk dibawa pulang baik untuk dibaca sendiri atau dibacakan orang lain. Kini siswa itu telah menjadi pembaca yang mandiri yang percaya diri. Pada saat upacara bendera, dengan sukarela dia membagikan buku cerita kesukaannya kepada seluruh sekolah. Cerita ini membuktikan bahwa apa yang telah sekolah upayakan selama 20 bulan tidak sia-sia.

Dengan diserahterimakannya perpustakaan ke sekolah masing-masing maka sekolah mulai melangkah secara mandiri dalam pengelolaan perpustakaan ramah anak di sekolah mereka. Melangkah mandiri dengan melibatkan keluarga dan masyarakat untuk membuat lebih banyak lagi cerita transformasi anak-anak didik di Indonesia.

Salam Literasi!

Comments(0)

Leave a Comment

Hallo
Send via WhatsApp